01
Des
08

Komik Indonesia

Jam menunjukkan pukul 12.27 siang. Hari ini ada janji makan siang bersama dengan Douglas A Kammen jam 12.30. Dia adalah supervisor yang membimbingku untuk ISM module di NUS. Aku ketuk pintu ruang kerjanya. Tidak ada jawaban. Kuulangi perbuatan yang sama hingga 3 kali namun tetap tidak ada jawaban.. Ah, mungkin dia sedang keluar, pikirku. Tiba-tiba muncul Irving Johson, jebolan Harvard University yang mengajar di NUS juga. Melihatku masih berdiri dan mengetuk pintu Douglas, dengan sekejab dia berkata bahwa Douglas belum datang karena hampir setengah hari itu dia tak melihatnya. Untuk mengisi waktu menunggu Douglas, aku mencoba menemui Nathasa Hamilton, salah seorang staf pengajar di NUS pula. Untuk program ex-change studentku disini, semua dibawah supervisinya. Orangnya ramah, very nice dan terkesan tegas serta tangguh. Ini kesan pertamaku bertemu dengannya bulan Agustus lalu. Tujuanku untuk berpamitan padanya sebelum aku kembali ke Indonesia karena dia banyak membantu selama masa-masaku tinggal di Singapore. Yang tak terlupakan, dia menulis surat untuk pihak manajemen hostelku yang lama di Evans Lodge Bukit Timah supaya mempertimbangkan untuk mengembalikan depositku yang sudah terlanjur kubayar. Dan, ternyata surat tsb cukup sakti karena mereka akhirnya mau mengembalikan depositku hingga bisa menutupi biaya kontrak kamar di PGPR, tempat dimana aku tinggal di Singapore hingga nanti sampai tanggal 7 Desember 2008.

Banyak yang kami bicarakan kemudian, soal kuliah, kemungkinan sekolah S3 di NUS, kritik terhadap program ex-change, hingga obsesiku untuk mendirikan perpustakaan anak di kampungku di Kalasan. Dia pun mulai bercerita sekelumit tentang pengalamannya mencari komik di Indonesia. Dan pembicaraan pun menjadi semakin menarik ketika kita berbincang tentang keberadaan komik untuk usia anak-anak. Mulai dari tradisi komik di Indonesia hingga substasi dari komik untuk anak di Indonesia. Dia cukup terkejut ketika sedang mencari komik untuk anaknya di Jakarta, dia menemukan hampir semua komik untuk anak yang diproduksi oleh penerbit-penerbit di Indonesia mengadaptasi cerita dari “Barat” alias hanya men-translate cerita komik Barat ke dalam bahasan Indonesia, seperti cerita putri salju misalnya. Nyaris tidak ada atau memang mungkin tidak ada komik yang merupakan hasil karya penulis Indonesia untuk anak-anak. Dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, belum ditemukan komikus untuk cerita anak di Indonesia berbasiskan cerita rakyat yang sesungguhnya sangat berlimpah. Ironis.

Ayo komikus-komikus muda Indonesia, berkaryalah!

Singapore, 02 Desember 2008, 02.23 am

01
Des
08

Pencarian tak akan pernah berhenti..

Kurang lebih selama hampir 8 bulan aku menghabiskan sebagian masa hidupku di Singapore ini..Pada awalnya ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini, hanya sekitar 2 minggu aku menikmati hidup disini, setelah itu semua terasa serba membosankan.. Hidup menjadi mekanis, penuh rutinitas yang membelit hingga membuatku berpikir.. apakah aku sudah ‘gila’ ? Namun, akhirnya tubuh & jiwa ini bisa beradaptasi dengan lingungan sekitar yang serba urban. Mungkin karena sejak kecil hingga dewasa secara fisik ini aku hidup dan tinggal di desa, jadi kurang bisa menikmati suasana urban yag ditawarkan oleh negeri ini. Lambat laun baru merasa nyaman dengan lingkungan sekitar.

Tetapi, yang kulakukan sekarang hanyalah menghitung mundur hari, menanti kepulanganku ke Yogya. . Iya, memang karena aku rindu dengan kampung halamanku di Jawa itu, namun lebih dari itu. Sebaliknya, aku justru merasa belum puas meyerap semua pengetahuan selama disini.. Aku merasa masih sedikit yang kulakukan dan kudapat selama menuntut ilmu disini..mungkin hanya pengalaman mencicipi sekolah dinegara lain yang serba dimanjakan oleh fasilitas, yang aku rasakan paling membekas.. Itu saja, tidak lebih..Entahlah, mungkin aku terlalu menghambur-hamburkan waktu untuk melakukan hal-hal yang kurang berguna hingga tak sadar waktu berlalu begitu cepat.. Hingga tiba-tiba sekarang aku tersadar bahwa ‘waktuku sudah habis disini’.. tersadar bahwa sebenarnya banyak hal yang belum kulakukan disini.. Namun, waktu tak bisa berkompromi..dan semuanya ternyata cepat berjalan tanpa kusadari.. Dan, pencarian untuk memuaskan hasrat akan pengetahuan itu tak akan pernah berhenti.. Sekarang saatnya aku belajar lagi dari ‘kehidupan’ secara langsung, bukan dari catatan-catatan dokumen yang ditulis oleh orang-orang.. Aku ingin mencari kebenaranku sendiri…

Singapore, 01 Desember 2008, 23.58

19
Okt
08

Apa yang kau pikirkan?

Potongan-potongan kalimat yang mengusikku hari ini…

“Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan” (Che Guevara)

“Try to not become a man of success, but rather try to become a man of value”  (Albert Einstein)

” Jika anda menolak mengambil resiko sejak awal atau permulaan, berarti Anda menolak keberhasilan yang mungkin saja akan Anda nikmati kemudian ” (Bill Gates)

12
Okt
08

SPASI by Dee

Hari ini sedang terinspirasi dengan sepenggal kata-kata dari Dee dalam Filosofi Kopi-nya..

- SPASI -

Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak ? dan saling menyayang bila ada ruang ?

Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yg tak dibagi. Darah mengalir deras dgn jantung yg tak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yg searah. Jadi jgn lumpuhkan aku dgn mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dgn rapat tp tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.